Badan Restorasi Gambut Gunakan Pemetaan Canggih

Sebagai respons atas kebakaran besar yang melanda hutan dan lahan di Indonesia pada 2015, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut. “Tujuan dibentuknya badan ini adalah untuk mencegah kebakaran di gambut dengan memulihkan ekosistem gambut, memulihkan sistem penataairan dan kesatuan hidrologi gambut (KHG),” kata Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG) Nazir Foead.

Lebih dari 30 persen lahan gambut Indonesia rusak akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2015. Indonesia memiliki gambut tropis terluas di dunia. Peran gambut tropis dalam ekosistem sangat penting sebagai penyerap emisi dan penyimpan air, tapi sekaligus memiliki potensi ancaman serius kepada dunia jika tidak dikelola dengan baik karena simpanan karbonnya yang sangat banyak. Dalam memulihkan fungsi ekosistem gambut untuk mencegah berulangnya kebakaran hutan dan lahan serta dampak asap, BRG mempunyai tugas memfasilitasi dan mengkoordinasi restorasi ekosistem gambut seluas 2 juta hektar di tujuh provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Visi yang ingin dicapai BRG adalah terwujudnya kondisi ekosistem gambut yang mampu mendukung pembangunan berkelanjutan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong.

Sebagai langkah awal restorasi, BRG mengeluarkan Peta Indikatif Restorasi Gambut pada September 2016 dengan skala 1:250.000. Peta Indikatif Restorasi Gambut dijabarkan lebih rinci dalam Peta Rencana Kerja Restorasi dengan skala 1:50.000 untuk penetapan zonasi fungsi pengelolaan dan perlindungan ekosistem gambut, skala 1:10.000 untuk perencanaan tata kelola ekosistem gambut, dan skala 1:2.500 untuk perencanaan konstruksi pembasahan gambut. Nazir mengatakan Peta Indikatif Restorasi Gambut menggunakan peta KHG, sebaran gambut dari berbagai sumber, tutupan hutan, kebakaran gambut, dan keberadaan kanal. BRG menggunakan peta baik dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, dan berbagai lembaga lainnya. Peta ini menjadi pedoman bagi pelaksana restorasi gambut. Peta Indikatif Restorasi Gambut dan Peta Rencana Kerja Restorasi dapat direvisi dengan memperhatikan hasil survei kondisi fisik lapangan, perubahan tata ruang, data dan informasi lahan gambut dan tutupan lahan terkini, masukan dari masyarakat, dan pembaruan data perizinan.

BRG juga melakukan pemetaan lahan gambut secara menyeluruh dengan teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR). BRG menyepakati perjanjian kerja sama dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) mengenai supervisi hasil dari pemetaan LiDAR. Dari LiDAR didapatkan foto udara, hidrotopografi atau data tinggi permukaan lanskap. Untuk menghasilkan peta tutupan lahan dan data sesuai SNI mengenai hasil pemetaan detail, hasil pemetaan itu harus disupervisi oleh BIG. Skala petanya adalah 1: 2.500, skala paling tinggi yang dibuat BRG. Bersama BIG juga dilakukan perjanjian kerja sama inventarisasi Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG). Hasil inventarisasi KHG dari BRG bisa terintegrasi dengan inventarisasi BIG mengenai data peta tematiknya. Dari LiDAR ini bisa didapatkan pula area-area yang selalu terkena pasang surut. Dengan teknologi LiDAR, metode pemetaan gambut yang lebih cepat dan efisien bisa dilakukan. Total sudah 12 KHG yang dipetakan dengan LIDAR, data kedalaman gambutnya juga sudah ada.

LiDAR merupakan metode pemetaan yang mengintegrasikan sistem penentuan posisi GPS/INS (Global Positioning System/Inertia Navigation System) serta pengukuran jarak dengan laser ke obyek di permukaan bumi; dan juga umumnya dilengkapi dengan kamera digital. Teknologi LiDAR digunakan untuk memproduksi peta gambut pada skala besar yaitu 1:2.500. Artinya, tiap 1 centimeter di peta sama dengan 25 meter di permukaan bumi. Hal itu dilakukan guna menciptakan tata kelola hutan dan lahan gambut menjadi lebih baik. Metode LiDAR dapat menghasilkan peta ketinggian permukaan bumi untuk mengidentifikasi kubah gambut; peta hidrotopografi, yakni modeling arah aliran alir di lahan gambut untuk membantu identifikasi lokasi sekat kanal; dan peta penutup lahan dari foto udara untuk melihat kondisi terkini lahan gambut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *