BRG, Universitas Kyoto, JICA Gelar Simposium Restorasi Gambut Tropis

Badan Restorasi Gambut (BRG) dalam menjalankan tugasnya memerlukan masukan dari para ahli multidisipliner. Karena itu BRG bekerja sama dengan Research Institute for Humanity and Nature (RIHN), Universitas Kyoto dan Japan International Cooperation Agency (JICA) menyelenggarakan Joint Symposium on Tropical Peatland Restoration dengan tema “Responsible Management of Tropical Peatland following up Jakarta Declaration” di Jakarta (22/2).

Simposium ini melibatkan para ahli dari berbagai disiplin untuk menghasilkan catatan ilmiah tentang pengelolaan dan restorasi gambut tropis yang bertanggung jawab. Diskusi ini bermaksud untuk mengulas progres studi-studi gambut secara akademis khususnya sejak pembentukan BRG pada 2016, dan memberikan landasan ilmiah untuk restorasi gambut di negara-negara tropis.

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead mengatakan diskusi ini dimaksudkan untuk melihat progres studi gambut sekaligus berbagi pengalaman dengan para ahli. “Hasil dari simposium ini akan digunakan sebagai landasan bagi kami untuk membuat rancangan program restorasi,” kata Nazir.

Lebih lanjut Nazir menyampaikan apresiasinya atas semua dukungan yang diberikan kepada BRG. “Kita berharap semua pelajaran dan pengalaman yang telah kita jalani dapat memperkuat dan menyempurnakan usaha kita di tahun 2018,” tambahnya. Nazir juga berharap semua pelajaran dari Indonesia dapat digunakan di banyak negara sehingga bisa dikembangkan praktik terbaik dalam mengelola gambut.

Salah satu faktor keberhasilan utama dalam restorasi gambut tropis adalah pembangunan Sistem Monitoring Terpadu, yang merupakan aktivitas lanjutan dari Deklarasi Jakarta terkait pengelolaan yang bertanggung jawab terhadap gambut tropis. “Saya mengapresiasi dukungan dari BPPT, LIPI dalam menciptakan sistem monitoring lahan gambut seperti pengawasan tinggi muka air gambut seluruh Indonesia. Kami berharap sistem monitoring ini segera difinalisasi dan diumumkan tahun ini sehingga bisa digunakan oleh pemerintah, publik, dan perusahaan dalam mencegah kebakaran,” kata Nazir.

“Peningkatan tinggi muka air sangat penting dalam pengelolaan gambut yang berkelanjutan,” kata Prof. Mitsuro Osaki dari JICA. “Kami memperkenalkan AeroHydro Culture, suatu sistem kultur inovatif pada tingkatan muka air yang tinggi. Kami mendukung kegiatan BRG di Riau, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Barat.”

Selain sistem monitoring, pemilikan lahan gambut juga menjadi topik utama diskusi. Prof. Kosuke Mizuno dari RIHN Universitas Kyoto mengatakan hutan rawa gambut di kawasan hutan negara paling rentan terhadap kebakaran dan penelantaran karena lemahnya pengelolaan dan tumpang tindih pemilikan lahan. “Lahan-lahan ini di mana masyarakat tidak memiliki hak yang jelas akhirnya ditinggalkan oleh mereka sehingga rawan terbakar. Jadi, dengan hak kepemilikan yang lebih kuat, lebih baik pula pengelolaan lahan gambutnya oleh masyarakat,” kata Mizuno. “Langkah selanjutnya setelah simposium ini adalah perbaikan situasi sosial seperti hak-hak atas tanah bagi masyarakat.”

Simposium ini merupakan wujud kolaborasi para ahli dari berbagai disiplin ilmu melalui kajian ilmiah dalam pengelolaan gambut tropis secara bertanggung jawab. Kajian ilmiah meliputi definisi, cakupan, dan tantangan dari pengelolaan gambut tropis yang bertanggung jawab sebagai landasan ilmiah untuk praktik terbaik manajemen gambut tropis. Simposium ini juga membicarakan restorasi menyangkut mitigasi kebakaran dan emisi karbon dari gambut tropis, dan ulasan progress studi gambut terkait dengan beragam aspek konservasi dan rehabilitasi gambut. Kajian ini akan dipublikasikan pada 2019 dalam bentuk buku-buku atau edisi spesial di jurnal-jurnal ilmiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *