BRG Bawa Inovasi di Desa Lukun

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead meninjau sekat kanal di Desa Lukun, Kepulauan Meranti, Riau.

Desa Lukun, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, mengalami kebakaran lahan gambut seluas 800 hektar yang menghanguskan kebun sagu dan vegetasi lainnya pada Februari 2018. Sebagai reaksi cepat atas karhutla tersebut Kepala Badan Restorasi beserta rombongan dan para ahli gambut dari sejumlah universitas meninjau desa tersebut pada Kamis (15/3).

Dalam dialog dengan penduduk setempat, masyarakat Desa Lukun meminta BRG untuk merestorasi lahan gambut yang terbakar itu agar kebakaran tidak terulang kembali.

Nazir Foead meninjau sejumlah proyek restorasi di desa tersebut seperti sekat kanal, sumur bor dan demplot tanaman dan perikanan rawa. Nazir bersyukur kebakaran tidak sampai ke sana. Lokasi kebakaran sekitar 4,5 km dari sekat kanal paling ujung.

“Jumlah sekat kanal yang sudah dipasang ada tujuh. Idealnya 24 sekat agar pembasahan gambut sempurna. Area yang sudah terbakar harus direvegetasi,” kata Nazir.

Lebih lanjut Nazir Foead menyampaikan pesan dari Presiden Joko Widodo bahwa Presiden sangat memperhatikan gambut dan masyarakatnya. “Karena itulah BRG dibentuk, di samping memfasilitasi pembasahan gambut, kami juga berupaya membantu meningkatkan perekonomian masyarakat di area restorasi,” kata Nazir.

Saking besarnya perhatian Presiden terhadap gambut sampai-sampai Presiden ingin menyajikan makanan dan minuman dari lahan gambut pada perayaan Hari Kemerdekaan 2018 nanti.

Nazir mengingatkan kembali pada kunjungan Presiden tahun 2014 di Kabupaten Kepulauan Meranti yang menunjukkan betapa besar perhatian Presiden pada daerah ini terkait kebakaran. “Pada kebakaran besar tahun 2015, Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Kepulauan Meranti, paling sedikit mengalami kebakaran. Ini menjadi prestasi,” tambah Nazir.

Pertanian di lahan gambut berbeda dengan pertanian di tanah mineral. Pengelolaan gambut harus dilakukan dengan kearifan lokal dan teknik-teknik khusus.

Sagu menjadi pokok tanaman unggulan dan secara keekonomian masuk. BRG sedang mengembangkan lagi komoditas-komoditas lainnya yang bisa menjadi unggulan, seperti nanas dan pinang.

“Semuanya nanti dikembangkan lagi sesuai arahan gubernur dan bupati dan dukungan teknis serta ilmu dari universitas/lembaga riset,” kata Nazir.

Menurut BMKG, kemarau kemungkinan datang lebih awal. Nazir berpesan untuk menjaga gambut agar tidak terbakar. Kelalaian harus dihindari.

Di 2018 ada agenda penting, khususnya Asian Games pada Agustus saat musim kemarau. “Kita menjadi tuan rumah olahraga terbesar dunia setelah Olimpiade. Jangan sampai asap mengganggu acara akbar ini,” kata Nazir.

Kunjungan Kepala BRG ke Desa Lukun juga disertai oleh para ahli dari universitas   di Riau, Kalimantan, Papua dan mereka sudah banyak memiliki pengalaman dengan petani gambut di Kalimantan dan Papua.

Kepala Desa Lukun, Lukman Ahmad, menyambut baik dan bersyukur dengan adanya program restorasi gambut I daerahnya.”Kami berterima kasih banyak kepada Kepala Badan. Ini merupakan usaha kita bersama untuk mencegah kebakaran. Kami juga berterima kasih kepada kelompok masyarakat, Manggala Agni Siak, BPBD [Badan Penanggulangan Bencana Daerah], MPA [masyarakat peduli api] desa, dan semua pihak yang membantu memadamkan api. Alhamdulillah dalam 12 hari api bisa dipadamkan. Dalam 21 hari api benar-benar dipadamkan, yang dilanjutkan dengan 5 hari penyisiran. Setelah itu hujan pun turun. Alhamdulillah,” kata Lukman. “Mudah-mudahan kehadiran Pak Kepala Badan bisa membawa berkah bagi Desa Lukun.”

Sementara itu, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat yang mewakili Bupati Kepulauan Meranti, Jonizar, juga menyambut baik program yang dicanangkan pemerintah pusat melalui Badan Restorasi Gambut. “Dari enam presiden, hanya Jokowi yang mengunjungi kami di Desa Sungai Tohor. Kita memberikan apresiasi terbaik kepada Bapak Presiden,” kata Jonizar. Lebih lanjut Jonizar mengatakan BRG membawa inovasi lewat pembentukan pokmas-pokmas. Pendapatan warga desa mulai meningkat. Produk-produk yang inovatif itu di antaranya adalah madu kelulut dan kopi liberika. Selain itu dikembangkan pula perikanan rawa yang bernilai ekonomi tinggi seperti lele dan tuakang. “Kita berharap saat program BRG berakhir kita bisa lanjutkan.”

Pada kesempatan tersebut dilakukan Berita Acara Serah Terima hasil program BRG kepada kelompok masyarakat (pokmas), yakni Pokmas Harapan Bersama dari  Desa Kundur dengan kegiatan sekat kanal 17 unit, Pokmas Amanah dari Desa Luke dengan sekat kanal 8 unit, Pokmas Sejahtera dari Desa Tanjung Tranap dengan kegiatan sekat kanal 17 unit, Pokmas Berkat Usaha dari Desa Tanjung Padang dengan kegiatan sekat kanal 10 unit, Pokmas Bina Bersama dengan budi daya dan pengolahan kopi dari Desa Bina Sempian, Pokmas Peduli Kampung dengan pengolahan sagu dari Desa Sungai Tohor, Pokmas Sari Madu dengan budidaya madu kelulut dari Desa Tanjung Sari, Pokmas Trubus dengan budi daya dan pengolahan jahe dari Desa Kundur, Pokmas Rimba Jaya dengan bantuan sumur bor 50 unit dari Kampung Dayun, Pokmas Makmur Jaya dari Kampung Kemang dengan 50 unit Sumur Bor.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *