Mengulas Kembali Perlindungan Gambut di Hari Air Sedunia

Hari Air Sedunia, yang diperingati tiap tanggal 22 Maret, mengingatkan kita selalu tentang betapa pentingnya air, khususnya di lahan gambut.  Sekitar 90 persen ekosistem gambut berupa air. Lahan gambut yang terasa empuk saat diinjak ini padat dengan serat organik. Wajar saja bila gambut bisa menyerap air hingga 15 kali dari bobot keringnya.

Ekosistem gambut mempunyai fungsi utama dalam perlindungan dan keseimbangan tata air, penyimpan cadangan karbon, dan pelestarian keanekaragaman hayati. Gambut juga menjadi sumber perekonomian masyarakat setempat karena mereka secara turun-temurun mengandalkan hasil alam dari lahan ini.

Tata kelola air yang buruk membuat kondisi lahan gambut Indonesia memprihatinkan. Kerusakan itu menimbulkan kebakaran yang berulang. Pemerintah akhirnya membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG), yang mengemban amanat merestorasi gambut-gambut yang rusak karena terbakar dan terdegradasi di Tanah Air. BRG menargetkan merestorasi gambut seluas 2 juta hektar di tujuh provinsi.

BRG bertugas mempercepat pemulihan dan pengembalian fungsi hidrologis gambut yang rusak terutama akibat kebakaran dan pengeringan. “Kebakaran hutan terjadi karena pengeringan gambut melalui pembangunan kanal-kanal yang mengeluarkan air gambut menuju sungai dan laut lepas. Gambut yang kering akan menjadi bahan bakar utama kebakaran hutan,” kata Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead. Tiga pendekatan yang diterapkan (rewetting, revegetation, revitalitation) erat kaitannya dengan pengelolaan air di lahan gambut.

Pembasahan gambut (rewetting) berupaya meningkatkan muka air lahan gambut dengan membangun sekat-sekat kanal, menimbun kanal, dan membuat sumur bor. Pendekatan berikutnya adalah revegetasi, yakni upaya pemulihan tutupan lahan pada ekosistem gambut melalui penanaman jenis tanaman asli pada fungsi lindung atau dengan jenis tanaman lain yang adaptif terhadap lahan basah dan memiliki nilai ekonomi pada fungsi budidaya. Tanaman ini juga berfungsi sebagai tajuk pelindung gambut untuk meminimalkan penurunan muka air saat kemarau. Adapun program revitalisasi sumber-sumber mata pencaharian masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di dalam dan sekitar areal restorasi gambut melalui budidaya yang cocok di lahan gambut.

Pemerintah memperkuat perlindungan gambut untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan dengan  mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 57 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas PP No. 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Presiden Joko Widodo menandatangani moratorium konversi lahan gambut. Dengan moratorium gambut jelas tidak boleh buka lahan baru, tidak boleh ada izin baru, apalagi jika gambut itu dalam. Pengeringan gambut yang dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit dan bubur kertas adalah penyumbang besar bagi kerusakan hutan tropis di Indonesia serta emisi gas rumah kaca. Konversi lahan itu setiap tahun memperburuk situasi kebakaran hutan. Banyak kebakaran (99 persen) memang disengaja untuk pembukaan dan pembersihan lahan.

Meski demikian, kegiatan budi daya di lahan gambut untuk perkebunan dan hutan tanaman masih bisa dijalankan dengan pengelolaan tata air di dalamnya. Nazir Foead mengatakan upaya restorasi gambut dipastikan tidak akan menghentikan kegiatan budi daya yang sudah berjalan selama ini dengan pengaturan tinggi muka air agar lahan tetap lembap dan tidak mudah terbakar. Itulah gunanya sekat kanal untuk mengatur tinggi muka air. “Saat musim kemarau dan gambut diperkirakan mengalami kekeringan, maka sekat kanal dapat  ditutup. Jika sudah hujan berhari-hari dan banjir, dibuka sebagian tidak apa-apa,” kata Nazir.

BRG mengajak perusahaan dan semua pihak untuk memperhatikan ekosistem gambut sekaligus menjaga agar perekonomian tak terganggu. “BRG tetap akan meningkatkan koordinasinya dalam mencegah kebakaran dan diharapkan semua pihak menunjukkan iktikad baiknya dalam merestorasi gambut,” kata Nazir.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *