Perkenalkan Cara Modern, BRG Hadirkan Sekolah Lapang

VARIA PERADILAN — Muryanto, seorang petani dari Rantau Rasau, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, baru saja mengikuti Sekolah Lapang Petani Gambut yang diselenggarakan Badan Restorasi Gambut di Provinsi Jambi. Sekolah yang berlangsung selama satu minggu itu telah membuka pikirannya tentang pengelolaan lahan gambut yang baik dan benar. “Banyak hal baru yang saya pelajari dari Sekolah Lapang BRG. Di sini kita mendapat pengetahuan modern tentang bagaimana meningkatkan budidaya di lahan gambut sekaligus menjaga lahan gambut agar tidak rusak,” kata Muryanto, 32 tahun. Muryanto mengaku metode yang diterapkan dalam sekolah ini praktis, tapi sangat lengkap, mulai dari persiapan lahan gambut untuk budidaya, pemanfaatan gambut tanpa bakar, membuat pupuk organik padat dan cair, hingga teknologi panen dan pasca panen komoditas gambut. “Kita juga diajarkan mengenai solusi pemasaran komoditas gambut,” tambah Muryanto yang siap menularkan ilmu barunya itu ke rekan-rekan di desanya.

Badan Restorasi Gambut (BRG) memiliki misi, antara lain, mengembangkan pemanfaatan gambut yang berkelanjutan dan menggalang partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan restorasi gambut. Melalui program Desa Peduli Gambut (BRG), BRG telah melakukan pemetaan desa dan pendampingan potensi desa di tujuh provinsi. Salah satu keberlanjutan dari program Desa Peduli Gambut adalah pembangunan demplot belajar di 67 desa di 6 provinsi pada akhir 2017. Pembangunan demplot ini diperbanyak pada 2018 dengan 75 desa lainnya.

Untuk mengoptimalkan keberadaan demplot-demplot yang berada di Desa Peduli Gambut, Badan Restorasi Gambut (BRG) menggelar Sekolah Lapang Petani Gambut di Provinsi Jambi, 28 Maret – 4 April 2018. Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi Deputi III BRG, Suwignya Utama, mengatakan total keseluruhan demplot nantinya yang akan BRG kembangkan mencapai 75 Pokmas (Kelompok Masyarakat) tersebar di tujuh provinsi. “Kalaupun memungkinkan hingga batas akhir projek BRG (2020), kawasan yang belum akan terus dibangun. Kalaupun tidak, bisa saja nantinya desa yang sudah dilatih membagikan atau membangun di desa sekitarnya,” kata Suwignya Utama.

BRG melalui sekolah ini juga berupaya meningkatkan kapasitas petani di lahan gambut dalam pengolahan lahan gambut dan menemukenali sekaligus menyebarluaskan kearifan lokal petani gambut dalam pengolahan lahan gambut. Sekolah Lapang berperan sebagai sarana saling tukar pengetahuan dan praktik baik dalam pengolahan lahan gambut dan menjadi sarana pengorganisasian petani lahan gambut.

Kegiatan Sekolah Lapang dilakukan di dalam dan di luar ruangan. Pelatihan dalam ruangan dilakukan di Desa Sebapo, Kabupaten Muaro Jambi, sedangkan praktik lapangannya di Desa Catur Rahayu, Kecamatan Dendang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi.

Sekolah ini diikuti oleh 28 orang dari 14 DPG, terbagi atas 4 DPG 2017 dan 10 DPG 2018. Pesertanya yang terdiri dari laki-laki dan perempuan harus berusia di bawah 40 tahun dan mewakili dari pokmas demplot. Mereka juga harus aktif dalam produksi pertanian dan memiliki lahan.

Dinamisator BRG di Jambi Diki Kurniawan mengatakan untuk DPG 2017 harus dari Pokmas yang telah ada mini demplotnya dan didukung dari Kedeputian 3 BRG. “Pelatihannya seperti mengukur tekstur dan tingkat kesuburan tanah, pemanfaatan bahan/limbah organik tanaman untuk penetralan keasaman tanah, pembuatan bio-kompos, ZPT serta bio-pestisida dan tricoderma untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman,” kata Diki.

Lebih lanjut Diki menjelaskan materi disesuaikan dengan masing-masing potensi lokal dan minat pokmasnya. “Ada yang agroforestry, sawah dan hortikultura, ternak dan biogas, perikanan atau fishery,” kata Diki. Kegiatan dimulai dengan penyiapan melalui pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB), mengukur PH tanah dan air.

Sekolah Lapang Petani Gambut menerapkan metode tatap muka, praktik lapangan, diskusi dan simulasi, kunjungan lapangan dan magang. Bahan-bahan yang disediakan berupa modul dan bahan pendukung belajar berupa buku saku, buku dengan tema tertentu, video dan bahan ajar lainnya termasuk alat-alat pertanian.

Sekolah Lapang digelar di enam provinsi meliputi Riau (1 kali masa sekolah), Sumatera Selatan (2 Kali masa sekolah), Jambi (1 kali masa sekolah), Kalimantan Barat (2 kali masa sekolah), Kalimantan Selatan (1 kali masa sekolah), dan Kalimantan Tengah (2 kali masa sekolah).

Setelah selesai mengikuti Sekolah Lapang, petani gambut diberikan tugas tertentu di demplotnya masing-masing. Masa ini dinamakan sebagai masa pendampingan. Dalam masa pendampingan ini pihak yang dilibatkan adalah fasilitator dan petani. Petani mencatat dan mendokumentasikan kegiatan selama masa pendampingan ini. Fasilitator akan melakukan evaluasi berkala.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *