Sagu, Komoditas Gambut Andalan Pengganti Beras

VARIA PERADILAN — Belum banyak masyarakat Indonesia tahu bahwa sagu bisa diolah menjadi berbagai macam makanan yang sehat. Bahkan sagu juga bisa menjadi alternatif makanan pokok beras. Daerah penghasil terbesar sagu di Indonesia adalah Papua dan Kepulauan Meranti, Riau. Di Indonesia, sagu telah diolah menjadi produk-produk pangan maupun non pangan. Produk-produk pangan mencakup antara lain sohun, kue, mie, serta pakan ternak, sedangkan produk non pangan, sebagai salah satu bahan baku di bidang industri kertas dan tekstil, meliputi bioetanol serta plastik ramah lingkungan (degradable plastic). Di Papua dan Papua Barat dikenal makanan lokal papeda. Di Maluku sagu lempeng merupakan makanan utama sebagian masyarakat, termasuk papeda, sedangkan di Kabupaten Kepulauan Meranti diproduksi berbagai jenis makanan berbahan pati sagu, seperti mi instan sagu, gobak sagu, dan lempeng.

Sagu dapat menjadi sumber pangan berupa karbohidrat dan dikenal sebagai makanan pokok masyarakat di Sulawesi Tenggara, Kepulauan Maluku, dan Papua. Tingkat produksi sagu basah tiap pohon di berbagai daerah di Indonesia bervariasi, dengan produksi terendah 150 kg sampai yang tertinggi 400 kg sagu basah. Dari aspek ekonomi, sagu layak untuk dikembangkan karena dapat menjadi sumber pangan dan energi alternatif.

Selain bernilai ekonomi, sagu pun dapat beradaptasi pada daerah tergenang sehingga dapat meningkatkan serapan CO2, meningkatkan cadangan karbon dan berperan dalam mitigasi emisi gas rumah kaca. Sagu dapat tumbuh pada daerah rawa (pasang surut), tanah bergambut dan gambut dangkal (<50 cm), dengan ketinggian muka air tanah tidak lebih dari 50 cm pada musim kemarau.

Badan Restorasi Gambut (BRG) mendorong budi daya tanaman sagu oleh para petani di area restorasi gambut karena komoditas ini cocok dengan lahan gambut dan dapat meningkatkan perekonomian mereka. Dalam kunjungan kerjanya ke Desa Lukun, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau,  Kepala BRG Nazir Foead menyatakan kegembiraannya dengan perkembangan tanaman sagu masyarakat setempat. “Kami senang mendapat penjelasan mengenai perkembangan tanaman sagu di sini. Mengagumkan bahwa sagu di sini bisa menjadi pokok tanaman unggulan dan secara keekonomian masuk. Kita ingin mengembangkan lagi komoditas-komoditas lain yang bisa menjadi unggulan selain sagu,” kata Nazir.

Penyebaran alami sagu cukup luas, mulai dari Sumatera (Riau dan Jambi), Kalimantan Barat, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Papua. Sagu tumbuh secara alami pada dataran rendah hingga ketinggian 300 meter dari permukaan laut (dpl), pada daerah rawa di pesisir pantai dan sepanjang aliran sungai yang tergenang. Sagu tumbuh pada tanah mineral, daerah rawa pasang surut, dan tanah gambut dengan kedalaman dangkal hingga sedang. Walaupun toleran terhadap air asin sampai tingkat salinitas tertentu, pohon sagu tumbuh lebih baik pada air tawar.

Budi daya sagu dilakukan secara generatif (biji) dan vegetatif (tunas). Umur pohon sagu sejak mulai berkecambah hingga berbuah bervariasi mulai dari 8-17 tahun. Pohon sagu hanya berbunga dan berbuah sekali seumur hidupnya. Setelah buah masak pada pohon dan dipanen atau jatuh dari pohonnya, pohon sagu akan mati. Selama proses tersebut, tunas samping akan tumbuh sebagai perbanyakan vegetatif.

Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, adalah salah satu daerah penghasil pati sagu utama di Indonesia. Luas tanaman sagu di Provinsi Riau sekitar 50.000 ha, dan terluas di Kabupaten Kepulauan Meranti. Di Kabupaten ini telah dibangun perkebunan sagu di lahan pasang surut, yang dikelola oleh PT Nasional Sagu Prima dengan lahan seluas 20.000 ha, dan telah ditanam sagu seluas 14.000 ha. Menurut catatan Dinas Pertanian, Peternakan dan Tanaman Pangan Kabupaten Kepulauan Meranti, produksi sagu Kabupaten Kepulauan Meranti, yang dikirim ke sejumlah wilayah Indonesia dan luar negeri mencapai lebih dari 400.000 ton per bulan.

Berdasarkan hasil penelitian tanaman sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti, yang dilakukan Balai Penelitian Tanaman Palma, ditemukan tiga jenis sagu, yaitu sagu duri, sagu sangka dan sagu bemban. Jenis sagu duri adalah yang paling luas penyebarannya dan dikembangkan serta diolah masyarakat pengrajin sagu. Produksi pati sagu beragam antara 134,53 kg – 354,61 kg pati sagu kering/pohon, dengan rata-rata produksi 226,34 kg/pohon. Hasil analisis proksimat memperlihatkan bahwa pati sagu Selatpanjang memiliki kandungan karbohidrat 88,19%, dengan kadar air 10,36%.

Tanaman sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti telah berkembang dan dimanfaatkan masyarakat sejak lama, dan mempunyai nilai ekonomi yang cukup membantu masyarakat di sekitar kawasan sagu. Hasil utama tanaman sagu adalah pati yang diolah melalui kilang-kilang. Pati sagu ini dikemas dalam karung berukuran 50 kg, dan umumnya dikirim ke kota Cirebon sebagai bahan baku industri sohun, di samping dimanfaatkan untuk berbagai produk makanan, seperti mie dan kue kering. Selain itu, sebagian pati diekspor ke Singapura dan Malaysia untuk bahan baku industri makanan dan bukan makanan, termasuk produk plastik ramah lingkungan (degradable plastic). Kabupaten Kepulauan Meranti memiliki prospek dan peluang menjadi pusat industri pengolahan sagu terpadu di Indonesia, karena letaknya sangat strategis sebagai pintu gerbang ekspor ke luar negeri. Bila sagu ini bisa dipromosikan dengan baik, ditingkatkan budidayanya, dan dibuat lebih banyak kreasi, sagu bisa menjadi alternatif pangan dan menjadi komoditas unggulan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *