BRG Dorong Peningkatan Kapasitas Petani di Desa Gambut

VARIA PERADILAN — Peningkatan nilai tambah komoditas pertanian di desa-desa lahan gambut mendapat perhatian serius dari Badan Restorasi Gambut (BRG). Lembaga ad-hoc yang dibentuk Presiden pada 2016 ini bertugas memfasilitasi pemulihan gambut yang terbakar dan terdegradasi. BRG berkeyakinan usaha ini tidak akan berjalan efektif bila tidak ditunjang dengan perbaikan kesejahteraan warga di area restorasi. Karena itu di tingkat tapak bersama masyarakat, Badan Restorasi Gambut (BRG) menyelenggarakan Program Desa Peduli Gambut (DPG) dengan pendekatan pembangunan desa berbasis Ianskap ekosistem gambut. DPG dijalankan pada desa/kelurahan di dalam Kesatuan Hidrologis Gambut yang menjadi prioritas lokasi restorasi gambut. Di Sumatera Selatan BRG tengah memfasilitasi kerja sama lingkungan dan pengembangan ekonomi di empat desa: Desa Gilirang, Jalur Mulya, Beringin Agung, dan Timbul Jaya.

“Melalui Program DPG kami juga memfasilitasi desa-desa yang berada di satu hamparan ekosistem gambut yang sama untuk mengembangkan kerja sama ekonomi. Salah satu bentuk kerja sama yang dilakukan BRG di Sumatera Selatan adalah kerja sama empat desa yang berdekatan, yaitu Desa Gilirang, Jalur Mulya, Beringin Agung, dan Timbul Jaya. Keempat desa itu memiliki komoditas andalan yang sama yakni kelapa,” kata Deputi III bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG Myrna Asnawati Safitri saat melakukan kunjungan kerja di Desa Gilirang, Kamis (12 April 2018).

Empat desa ini difasilitasi BRG untuk membangun kerja sama ekonomi dalam pengembangan komoditas kelapa melalui pembentukan Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) dan Badan Usaha Milik Desa  (BUMDes) yang dilakukan secara bersama-sama. “Fasilitasi dari BRG antara lain berupa peningkatan kapasitas kelompok petani dan pengembangan rencana bisnis untuk mengolah lebih lanjut kelapa secara berkelanjutan,” tambah Myrna.

Abdul Wahib Situmorang, Technical Advisor for Natural Resources Governance Environment Unit UNDP, mengatakan UNDP mendukung program BRG baik dalam upaya restorasi gambut maupun pengembangan perekonomian masyarakat di area restorasi. “Yang pertama, UNDP membantu BRG dalam penguatan kelembagaan, yang kedua, membantu BRG dalam memberikan pelatihan kepada masyarakat desa untuk membuka lahan tanpa bakar. Selanjutnya kami membantu kelompok masyarakat dalam membuka akses pasar bagi komoditas utama desa, dalam hal ini kelapa. Kita bantu mereka untuk memikirkan bagaimana memberikan nilai tambah bagi komoditas kelapa ini,” kata Abdul Wahib.

Kepala Desa Gilirang, Dahlan, berharap program BRG ini dapat meningkatkan produk olahan dari kelapa ini sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. “Produk kelapa dari desa kami banyak diekspor ke China untuk produk makanan. Selain sebagai bahan makanan, bagian lain dari kelapa ini bisa dibuat untuk alat rumah tangga. Ini yang mesti terus dikembangkan,” kata Dahlan.

Salah seorang petani kelapa di Desa Gilirang, Abdul Kadir, menyambut baik program fasilitasi BRG ini. “Panen kelapa dari empat desa ini bila digabung bisa menghasilkan lebih dari 2 juta butir kelapa per bulan. Tentu ini potensi sangat besar untuk pengembangan lebih lanjut dari komoditas andalan kami ini,” kata Abdul Kadir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *