BRG Tandatangani MoU bersama Ditjen KSDAE tentang Restorasi Gambut di Kawasan Konservasi

Badan Restorasi Gambut (BRG) menandatangani nota kesepahaman bersama Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Continue reading “BRG Tandatangani MoU bersama Ditjen KSDAE tentang Restorasi Gambut di Kawasan Konservasi”

Mengapa Gambut Harus Dilindungi

Mungkin banyak di antara kita yang belum tahu apa itu gambut. Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead menjelaskan secara sederhana pengertian gambut. “Gambut itu kumpulan barang-barang organik dari tumbuh-tumbuhan yang mati lapuk, jatuh ke tanah, tapi kemudian dia tidak teroksidasi bakteri tanah sehingga tetap berupa pecahan daun, kulit kayu, kayu bakar dan seterusnya. Jadi karena pecahan organik ini belum jadi tanah, kalau kering tentu mudah terbakar,” kata Nazir.

Bostang Radjaguguk dan Bambang Setiadi pada 1991 menyebutkan gambut terdiri atas bahan organik yang kondisinya jenuh air, hasil dekomposisi dari bahan tanaman yang terjadi secara anaerob. Dalam Taksonomi Tanah USDA, 2010, tanah gambut disebut Histosols (histos = tissue = jaringan). Terbentuk dalam keadaan jenuh air selama 30 hari atau lebih pada tahun-tahun normal, dengan ketebalan secara kumulatif minimal 40 cm atau 60 cm tergantung dari tingkat dekomposisi bahan gambut dan bobot jenisnya. Kementerian Kehutanan (2012) mendefinisikan “gambut” sebagai sisa bahan organik yang terakumulasi dalam jangka waktu yang panjang.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian pada 2012 mendefinisikan “lahan gambut” sebagai lahan dengan tanah jenuh air, yang terbentuk dari endapan yang berasal dari penumpukan sisa-sisa tumbuhan yang sebagian belum melapuk sempurna dengan ketebalan 50 cm atau lebih, dan kandungan karbon organik (C-organik content) sekurang-kurangnya 12% (berdasarkan berat kering). Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) pada 2012 menyebutkan kadar abu lahan gambut berkisar 0-50% dan memiliki kedalaman gambut lebih dari 50 cm. Badan Standardisasi Nasional (SNI No.7925:2013) mendefinisikan lahan gambut sebagai lahan dengan tanah jenuh air, terbentuk dari endapan yang berasal dari penumpukan sisa-sisa (residu) jaringan tumbuhan masa lampau yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut mendefinisikan gambut sebagai material organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan yang sebagian telah terdekomposisi dan terakumulasi pada rawa dan genangan air. Indikator dan ekosistem lahan gambut umumnya terdapat di antara dua sungai besar dan tergenang air dalam periode waktu yang lama (minimal 30 hari berturut-turut). Curah hujan tahunan di atas 2000 mm/tahun.

Gambut terbentuk dari bagian vegetasi yang telah terurai dan terendam air selama berabad lamanya dan berada di planet ini sekitar 360 juta tahun. Beberapa lahan gambut yang kini ada bahkan memerlukan lebih dari 10.000 tahun untuk terbentuk. Gambut terbentuk di iklim yang beragam di seluruh dunia, baik di dataran tinggi maupun di pesisir pantai, dari hutan hujan tropis sampai daerah permafrost bahkan sampai ke wilayah kutub, di mana tanah membeku sepanjang tahun, setidaknya selama dua tahun. Sebagian besar lahan gambut ditemukan di iklim dingin, di daerah iklim sedang atau boreal. Negara iklim tropis dengan cadangan gambut yang besar antara lain, Republik Demokratik Kongo, Indonesia, dan Peru. Sekitar 68% lahan gambut tropis ditemukan di Asia Tenggara.

Para pakar dan institusi telah lama melakukan inventarisasi lahan gambut di Indonesia. Polak tahun 1957 melaporkan lahan gambut di Indonesia luasnya sekitar 16,35 juta ha, kemudian Pusat Penelitian Tanah pada 1981 melaporkan luas lahan gambut di Indonesia 27,08 juta ha. Departemen Transmigrasi pada 1988, menghitung luas sekitar 20,1 juta ha. Kusumo Nugroho, peneliti Pusat Penelitian Tanah Bogor, pada 1992 berdasarkan peta-peta tanah yang ada mengkompilasi dan menghitung luas lahan gambut, terhitung 15,4 juta ha. Wahyunto dkk, 2004 dan 2005 yang dipublikasikan oleh Wetland International Program melaporkan hasil pemetaan lahan gambut berbasis citra satelit luas lahan gambut di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua 20,94 juta ha. Sofyan Ritung dkk, 2011, dari Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) menyusun peta gambut untuk mendukung peta Indikasi penundaan izin baru (PIPIB) hutan alam primer dan lahan gambut dengan meng-update peta lahan gambut terbitan Wetland International dengan masukan hasil survey pemetaan tanah yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian sampai tahun 2010, hasilnya luas gambut di tiga pulau besar sekitar 14,9 juta ha. Peta ini diperbaharui setiap 6 bulan sekali sesuai dengan mekanisme PIPIB antara lain dengan menghimpun masukan/klaim perusahaan konsesi perkebunan, dan hasil pemetaan tanah semi detil yang dilakukan oleh BBSDLP (Inpres No.6/2013).

Nazir menjelaskan, gambut secara alami menyimpan air dan selalu basah. Jadi karena sifatnya basah, sekering apa pun kemarau, gambut tidak mudah terbakar. Gambut menjadi mudah terbakar karena adanya pengeringan yang berlebihan oleh manusia, ditambah lagi kemarau datang sehingga gambut itu semakin kering. Menurut Nazir, gambut juga bersifat asam. Selama gambut tidak rusak, sulfat masam yang terkandung di dalamnya aman. Namun kalau gambut rusak, sulfat masam terekspos ke luar sehingga gambut tak bisa ditanami karena terlalu kecut. “Air hujan yang turun bisa membawa asam ini ke lahan pertanian sehingga tanaman jadi rusak.”

Jutaan manusia di seluruh dunia bergantung pada lahan gambut untuk penghidupan mereka yang seringkali melakukan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan. Padahal lahan gambut yang subur dapat menjadi sumber makanan, air bersih, dan menyediakan manfaat lainnya bagi masyarakat sekitar. Gambut juga bermanfaat untuk mencegah kekeringan, banjir dan pencampuran air asin untuk irigasi di area pertanian. Lahan gambut penting bagi keragaman hayati karena menjadi rumah bagi jenis langka seperti orangutan dan harimau Sumatera. Lahan gambut memegang peranan penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Walaupun jumlah lahan gambut hanya sekitar 3-5% di permukaan bumi, keberadaannya merupakan rumah bagi lebih dari 30% cadangan karbon dunia yang tersimpan di tanah. Diperkirakan lahan gambut menyimpan karbon dua kali lebih banyak dari hutan di seluruh dunia, dan empat kali dari yang ada di atmosfer. Lahan gambut di wilayah tropis menyimpan karbon yang paling banyak. Gambut merupakan penyimpan karbon dalam jumlah yang amat besar. Lahan gambut dan hutan secara alami merupakan tempat untuk menyerap gas CO2 bebas berlebih yang terdapat di atmosfer, sehingga memiliki peran penting dalam mengendalikan perubahan iklim.

Tanah gambut memiliki kemampuan menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya. Oleh karena itu perannya sangat penting dalam hidrologi, seperti mengendalikan banjir saat musim penghujan dan mengeluarkan cadangan air saat kemarau panjang. Kerusakan yang terjadi pada lahan gambut bisa menyebabkan bencana bagi daerah sekitarnya.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) M.R. Karliansyah mengingatkan bahwa pelanggaran ketentuan di kawasan ekologis gambut yang dilakukan oleh pemegang izin usaha tidak perlu terulang lagi di waktu-waktu mendatang.

“Setiap pembukaan baru terhadap areal gambut, termasuk membangun kanal baru, pasti ditindak tegas. Sudah ada aturan untuk itu,” tegasnya.

Komitmen nyata pemerintah terhadap perlindungan gambut telah dituangkan dalam PP No. 57 Tahun 2016 Jo PP No. 71 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri LHK No. P.14/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/2/2017 tentang Tata Cara Inventarisasi dan Penetapan Fungsi Ekosistem Gambut, Permen-LHK No.P.15/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 tentang Tata Cara Pengukuran Muka Air Tanah di Titik Penataan Ekosistem Gambut, PermenLHK No. P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 tentang Pedoman Teknis Pemulihan Fungsi Ekosistem Gambut dan Permen-LHK No. P.17/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/2/2017 tentang Perubahan atas Permen-LHK No.P.12/MENLHK-SETJEN/2015 tentang Pembangunan HTI yang telah diterbitkan untuk pelaksanaan PP.