);
  • Home
  • /
  • News
  • /
  • Jelang Jambore Gambut, Badan Restorasi Gambut Gelar Sekolah Lapang di Kalsel
Sekolah Lapang Badan Restorasi Gambut di Kalimantan Selatan

Jelang Jambore Gambut, Badan Restorasi Gambut Gelar Sekolah Lapang di Kalsel

Sharing is caring!

Provinsi Kalimantan Selatan akan menjadi tuan rumah Jambore Masyarakat Gambut 2018 pada 28 – 30 April nanti. Jelang perhelatan akbar itu, Badan Restorasi Gambut (BRG) menggelar Sekolah Lapang Petani Gambut di provinsi ini pada 2-8 April 2018. Sekolah ini diikuti oleh 40 peserta dari 20 Desa Peduli Gambut (DPG) di Kabupaten Batola, Kabupaten Tapin, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Tabalong. Sekitar 40 persen dari jumlah peserta adalah perempuan.

Kegiatan dibuka oleh Kapokja Edukasi dan Sosialisasi BRG Suwignya Utama dan diikuti oleh 10 Fasilitator Desa (Fasdes) DPG Kalsel. Suwignya Utama menjelaskan, sebagai langkah-langkah strategis dalam menjaga ekosistem lahan gambut, pihaknya telah merangsang masyarakat dengan membangun demplot (desa ekologis) sebagai salah satu keberlanjutan dari Program Desa Peduli Gambut di 67 desa di enam Provinsi (Sumsel, Jambi, Riau, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel) pada akhir 2017. Lebih jauh disampaikan, untuk Program Peduli Desa Gambut berdasarkan pemetaan desa, pada 2018 akan dilanjutkan pengembangan di Papua sebagai provinsi ketujuh. Di Papua, BRG dalam tahap awal akan membangun lima demplot latih kelompok masyarakat (Pokmas).

“Agar demplot di desa gambut ini dapat dioptimalkan keberadaannya, tentu perlu dilakukan berbagai kegiatan yang menunjang pada pengembangan pemanfaatan gambut yang berkelanjutan. Salah satu yang dilaksanakan adalah Sekolah Lapang Petani Gambut,” kata Suwignya Utama.

Dinamisator BRG di Kalimantan Selatan Emma mengatakan Sekolah Lapang di Provinsi Kalsel berlangsung di tiga tempat. “Pembukaan dan kegiatan hari kesatu dan kedua dilakukan di Balittra (Balai Penelitian Tanaman Rawa) Banjarbaru. Kegiatan luar kelas (outclass) berlangsung selama 3 hari di lokasi pertanian terpadu milik Musodikun dan Konsorsium Borneo Hijau,” kata Emma. Secara tematik komoditas yang dipraktikkan di kegiatan outclass meliputi padi, bawang, jeruk, dan jamur. Mereka juga melakukan praktik membuat pupuk organik dari ternak sapi, ayam dan kambing termasuk belajar dari warga desa yang sudah menggunakan kotoran ternaknya untuk biogas. Pada hari ke-6 para peserta dibawa ke Taman Sains Pertanian di belakang Balittra untuk belajar demplot perikanan dan pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB). Adapun pada hari ke-7 peserta kembali ke Balittra untuk evaluasi dan penutupan.

Melalui sekolah lapang ini para peserta diharapkan mampu mengenal ekosistem dan karakteristik hutan serta lahan gambut, sehingga mereka memiliki ketrampilan dalam mengidentifikasi lahan gambut yang dapat dikelola untuk budidaya pertanian adaptif. Sekolah Lapang ini dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas para petani sekaligus membangun perilaku yang bertanggungjawab terhadap pemanfaatan dan perlindungan ekosistem gambut.

Metode yang dipakai dalam Sekolah Lapang Petani Gambut adalah tatap muka, praktik lapangan, diskusi dan simulasi, kunjungan lapangan dan magang. Bahan-bahan yang disediakan berupa modul dan bahan pendukung belajar berupa buku saku, buku dengan tema tertentu, video dan bahan ajar lainnya termasuk alat-alat pertanian.

Masa sekolah diagendakan di enam provinsi meliputi Riau (1 kali masa sekolah), Sumatera Selatan (2 Kali masa sekolah), Jambi (1 kali masa sekolah), Kalimantan Barat (2 kali masa sekolah), Kalimantan Selatan (1 kali masa sekolah), dan Kalimantan Tengah (2 kali masa sekolah).

Setelah selesai mengikuti Sekolah Lapang, petani gambut diberikan tugas tertentu di demplotnya masing-masing. Masa ini dinamakan sebagai masa pendampingan. Dalam masa pendampingan ini pihak yang dilibatkan adalah fasilitator dan petani. Petani mencatat dan mendokumentasikan kegiatan selama masa pendampingan ini. Fasilitator akan melakukan evaluasi berkala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top